Cara Ambil Data Kepemilikan Saham Di Google Sheet
Selama ini banyak investor berbicara tentang “asing masuk” atau “ritel keluar” seolah-olah itu sekadar rumor pasar. Padahal, komposisi kepemilikan saham dapat dibaca secara objektif melalui data resmi KSEI, yang menunjukkan siapa sebenarnya pemegang saham: investor asing, institusi lokal, atau investor individu. Dengan mengolah data tersebut di Google Sheets, kita tidak lagi menebak arah pasar berdasarkan sentimen, melainkan menganalisis struktur kepemilikan secara kuantitatif. Disini tidak membahas cara mengambil datanya, tetapi langsung masuk ke inti yang lebih penting: bagaimana membaca, membandingkan, dan menafsirkan perubahan kepemilikan saham untuk memahami siapa yang menguasai suatu emiten, siapa yang sedang masuk atau keluar, serta apa implikasinya terhadap risiko dan pergerakan harga.
Pengertian kempemilikan saham di data KSEI
Kepemilikan saham dalam data KSEI merepresentasikan posisi jumlah saham yang tercatat atas nama investor pada tanggal tertentu, bukan aktivitas jual beli harian di pasar. Artinya, data ini menunjukkan siapa yang memegang saham dan dalam proporsi berapa, bukan siapa yang membeli atau menjual pada hari itu. KSEI mengelompokkan kepemilikan berdasarkan kategori investor seperti asing, institusi lokal, dan individu (ritel), sehingga struktur kepemilikan suatu emiten dapat dibaca secara objektif. Dengan memahami bahwa data KSEI adalah potret posisi (ownership position), bukan data transaksi, analisis yang dilakukan menjadi lebih akurat untuk menilai konsentrasi pemegang saham, pergeseran kepemilikan antar periode, serta peta kekuatan antara investor asing, institusi, dan ritel. Tanpa pemahaman ini, banyak analisa jatuh pada kesimpulan dangkal karena mencampuradukkan kepemilikan dengan arus transaksi yang sifatnya jangka pendek.
Data Utama Kepemilikan Saham
Dalam data KSEI, kepemilikan saham dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama: manajerial, asing, institusi lokal, dan individu (ritel). Kepemilikan manajerial mencerminkan saham yang dipegang manajemen internal dan menunjukkan komitmen terhadap kinerja jangka panjang. Kepemilikan asing menggambarkan porsi investor non-residen yang sensitif terhadap arus modal dan sentimen makro. Kepemilikan institusi lokal mencakup dana pensiun, reksa dana, asuransi, perbankan, dan korporasi domestik yang umumnya berorientasi fundamental. Sementara itu, kepemilikan individu merepresentasikan investor ritel yang lebih terfragmentasi dan reaktif terhadap pergerakan jangka pendek. Dengan pemetaan ini, analisa tidak berhenti pada “siapa yang memegang saham”, tetapi menjadi alat untuk menilai keseimbangan kekuatan pemegang, konsentrasi kepemilikan, serta potensi stabilitas atau volatilitas harga.
Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial adalah saham yang dipegang oleh direksi, komisaris, atau pihak pengendali internal perusahaan. Secara teori tata kelola (agency theory), kepemilikan ini menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham, karena nilai kekayaan pribadi manajemen ikut naik atau turun bersama kinerja perusahaan.
Efek terhadap harga saham: kepemilikan manajerial yang signifikan cenderung meningkatkan kepercayaan pasar terhadap keberlanjutan jangka panjang, karena manajemen memiliki “skin in the game”. Saham dengan porsi manajerial yang stabil biasanya lebih tahan terhadap tekanan jangka pendek. Namun, jika kepemilikan manajerial terlalu dominan, risiko entrenchment dapat muncul, yaitu kondisi ketika manajemen terlalu kuat sehingga sulit dikoreksi oleh pasar. Dalam situasi ini, likuiditas dapat menurun dan harga saham berpotensi menjadi kurang efisien.
Kepemilikan Lokal (Institusi Domestik)
Kepemilikan lokal mencakup institusi domestik seperti reksa dana, dana pensiun, asuransi, perbankan, dan korporasi lokal. Kelompok ini umumnya beroperasi dengan mandat investasi yang lebih terstruktur, berbasis fundamental, dan mengikuti kebijakan internal yang relatif disiplin.
Efek terhadap harga saham: dominasi institusi lokal sering kali memberikan stabilitas harga, karena keputusan investasi cenderung tidak reaktif terhadap rumor jangka pendek. Saham dengan porsi institusi lokal yang kuat biasanya memiliki volatilitas lebih terkendali dan pergerakan yang lebih rasional. Namun, stabilitas ini memiliki batas. Ketika institusi lokal melakukan rebalancing portofolio secara serempak, tekanan jual dapat terjadi dalam skala besar meskipun tanpa perubahan fundamental. Artinya, stabil bukan berarti kebal terhadap koreksi.
Kepemilikan Asing
Kepemilikan asing menunjukkan porsi saham yang dikuasai investor non-residen. Investor asing umumnya memiliki kapasitas dana besar dan sangat responsif terhadap faktor makro seperti suku bunga global, nilai tukar, kebijakan moneter, serta persepsi risiko negara.
Efek terhadap harga saham: jika kepemilikan asing tinggi, harga saham cenderung lebih sensitif terhadap arus modal global. Masuknya dana asing sering memicu kenaikan harga yang cepat karena volume dana yang besar, sementara keluarnya asing dapat menekan harga secara tajam meskipun kondisi perusahaan tidak berubah. Dengan kata lain, kepemilikan asing meningkatkan likuiditas dan daya dorong harga, tetapi juga meningkatkan volatilitas berbasis sentimen makro. Saham dengan dominasi asing bukan hanya mencerminkan kinerja emiten, tetapi juga kondisi pasar global.
Kepemilikan Individu (Ritel)
Kepemilikan individu mencerminkan partisipasi investor perorangan yang berskala kecil dan terfragmentasi. Kelompok ini biasanya heterogen, dengan horizon investasi yang beragam dan sensitivitas tinggi terhadap pergerakan harga jangka pendek.
Efek terhadap harga saham: dominasi ritel sering berkorelasi dengan volatilitas yang lebih tinggi, terutama pada saham berkapitalisasi kecil atau yang memiliki narasi populer. Pergerakan harga dapat dipengaruhi oleh psikologi massa, euforia, atau kepanikan, bukan semata oleh fundamental. Namun, ritel juga berperan sebagai penyedia likuiditas dasar pasar. Harga saham yang terlalu didominasi ritel cenderung lebih mudah “berisik” dan rentan terhadap lonjakan maupun penurunan yang tidak selalu sejalan dengan nilai intrinsik.
Rincian Pihak Kepemilikan Saham di KSEI
Data KSEI tidak berhenti pada pembagian “asing vs lokal” atau “institusi vs individu”. Kepemilikan saham dipecah lebih rinci berdasarkan jenis pelaku pasar, yang masing-masing memiliki motif, horizon investasi, dan dampak berbeda terhadap pergerakan harga. Kode yang digunakan seperti Local IS, Local CP, Local PF, Local IB, Local ID, Local MF, Local SC, Local FD, Local OT merepresentasikan struktur ini secara teknis. Jika kategori ini dipahami dengan benar, analisa kepemilikan naik dari sekadar statistik menjadi alat membaca perilaku pasar.
Asuransi – IS (Insurance)
Perusahaan asuransi mengelola dana jangka panjang yang berasal dari premi nasabah, dengan kewajiban utama menjaga solvabilitas dan kesinambungan pembayaran klaim. Oleh karena itu, orientasi investasinya cenderung konservatif, menekankan stabilitas nilai, imbal hasil yang konsisten, serta manajemen risiko yang terukur.
Dalam konteks kepemilikan saham, institusi asuransi biasanya memilih emiten dengan fundamental kuat, arus kas stabil, dan prospek usaha jangka panjang. Kepemilikan ini jarang bersifat spekulatif, karena setiap keputusan investasi harus selaras dengan regulasi permodalan, profil liabilitas, serta prinsip kehati-hatian yang mengikat industri asuransi.
Dampak terhadap harga saham: kepemilikan asuransi cenderung menurunkan volatilitas dan memperkuat level harga jangka menengah hingga panjang. Saham yang memiliki porsi IS yang signifikan biasanya menunjukkan pergerakan yang lebih stabil, karena tidak mudah terpengaruh oleh sentimen jangka pendek. Namun, perlu dicatat bahwa ketika perusahaan asuransi melakukan penyesuaian portofolio, baik karena perubahan regulasi, rebalancing aset, maupun kebutuhan likuiditas, tekanan beli atau jual dapat muncul dalam skala besar dan memicu pergerakan harga yang cukup signifikan.
Korporasi – CP (Corporate)
Kepemilikan korporasi mencerminkan saham yang dikuasai oleh badan usaha non-keuangan, baik dalam rangka investasi strategis, hubungan afiliasi, kemitraan bisnis, maupun kepentingan pengendalian tertentu. Berbeda dengan investor finansial, korporasi sering kali memiliki motif kepemilikan yang tidak semata-mata didorong oleh imbal hasil portofolio, tetapi juga oleh sinergi operasional, integrasi rantai nilai, atau pengamanan kepentingan bisnis jangka panjang.
Dalam praktiknya, kepemilikan CP cenderung bersifat relatif pasif terhadap fluktuasi harga jangka pendek. Saham yang dikuasai korporasi biasanya tidak mudah berpindah tangan, karena transaksi kepemilikan membutuhkan pertimbangan strategis, persetujuan manajemen, dan sering kali melibatkan aspek hukum maupun tata kelola perusahaan.
Dampak terhadap harga saham: kepemilikan korporasi umumnya meningkatkan stabilitas struktur pemegang saham dan mengurangi frekuensi perdagangan. Hal ini dapat memperkuat persepsi pasar terhadap keberlanjutan bisnis emiten. Namun, stabilitas tersebut memiliki sisi lain. Jika terjadi aksi korporasi seperti divestasi, restrukturisasi grup, pengalihan kepemilikan, atau perubahan strategi bisnis, tekanan harga dapat muncul secara tiba-tiba dan sering kali tidak berkaitan langsung dengan kinerja operasional perusahaan. Oleh karena itu, perubahan pada porsi CP perlu dibaca sebagai sinyal strategis, bukan sekadar pergerakan portofolio biasa.
Dana Pensiun – PF (Pension Fund)
Dana pensiun mengelola aset untuk memenuhi kewajiban pembayaran manfaat pensiun di masa depan. Karakter liabilitas yang berjangka panjang membuat orientasi investasinya sangat menekankan keberlanjutan, kestabilan arus kas, serta perlindungan nilai terhadap inflasi. Dalam memilih saham, dana pensiun umumnya memprioritaskan emiten dengan tata kelola baik, kinerja fundamental solid, dan prospek pertumbuhan yang relatif dapat diprediksi.
Berbeda dengan investor spekulatif, dana pensiun jarang melakukan transaksi jangka pendek. Kepemilikan saham lebih sering diposisikan sebagai bagian dari strategi alokasi aset jangka panjang, dengan proses evaluasi yang terstruktur dan berbasis kebijakan investasi institusional.
Dampak terhadap harga saham: keberadaan dana pensiun dalam struktur kepemilikan cenderung memperkuat karakter defensif suatu saham. Saham dengan porsi PF yang tinggi biasanya lebih tahan terhadap gejolak pasar jangka pendek, karena tekanan jual dari kelompok ini relatif rendah. Namun, konsekuensinya, saham tersebut juga sering kali kurang agresif dalam fase reli spekulatif, karena dana pensiun tidak mudah mengejar momentum. Ketika terjadi rebalancing portofolio atau perubahan kebijakan alokasi aset, pergerakan harga dapat terjadi, tetapi umumnya bersifat lebih terukur dan berbasis pertimbangan fundamental.
Instansi Keuangan – IB (Financial Institution / Bank, Lembaga Keuangan)
Kategori ini mencakup bank dan lembaga keuangan yang menempatkan dana untuk kepentingan treasury, manajemen likuiditas, maupun investasi strategis. Kepemilikan saham oleh institusi keuangan umumnya tidak semata bertujuan mencari capital gain, tetapi juga sebagai bagian dari pengelolaan aset, diversifikasi portofolio, serta optimalisasi imbal hasil terhadap dana pihak ketiga yang dikelola.
Berbeda dengan investor ritel, keputusan investasi lembaga keuangan sangat dipengaruhi oleh regulasi permodalan, rasio likuiditas, kebijakan manajemen risiko, serta kondisi pasar uang. Oleh karena itu, kepemilikan IB sering mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan menjaga likuiditas dan upaya memperoleh imbal hasil yang lebih baik dibanding instrumen pasar uang.
Dampak terhadap harga saham: kepemilikan instansi keuangan cenderung memberi stabilitas relatif, karena transaksi biasanya dilakukan berdasarkan pertimbangan makro dan manajemen aset, bukan spekulasi jangka pendek. Namun, kategori ini juga sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter dan kondisi likuiditas. Ketika terjadi pengetatan likuiditas, kenaikan suku bunga, atau kebutuhan permodalan, lembaga keuangan dapat melakukan pelepasan aset dalam jumlah besar. Tekanan jual yang muncul sering kali tidak berasal dari penurunan kinerja emiten, melainkan dari kebutuhan internal sektor keuangan itu sendiri.
Individu – ID (Retail Investor)
Kepemilikan individu mencerminkan partisipasi investor perorangan dengan skala investasi relatif kecil dan kepemilikan yang terfragmentasi. Kelompok ini sangat heterogen, mencakup investor jangka panjang, trader aktif, hingga spekulan yang berorientasi pada pergerakan harga harian.
Pola pengambilan keputusan investor individu umumnya lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar, informasi media, tren harga, serta faktor psikologis seperti euforia dan kepanikan. Berbeda dengan institusi, sebagian besar investor ritel tidak terikat oleh kebijakan investasi formal, sehingga reaksi terhadap berita atau pergerakan harga dapat berlangsung cepat dan masif.
Dampak terhadap harga saham: dominasi ID biasanya meningkatkan likuiditas perdagangan harian, tetapi juga memperbesar volatilitas jangka pendek. Harga saham cenderung lebih responsif terhadap rumor, narasi populer, dan momentum teknikal, bukan semata nilai intrinsik. Dalam kondisi ekstrem, dominasi ritel dapat memicu lonjakan harga yang tidak sebanding dengan fundamental, maupun penurunan tajam akibat kepanikan kolektif.
Reksa Dana – MF (Mutual Fund)
Reksa dana dikelola oleh manajer investasi profesional yang mengelola dana publik berdasarkan mandat tertentu, seperti reksa dana saham, campuran, atau indeks. Keputusan investasi umumnya berbasis analisis fundamental, valuasi, serta strategi alokasi aset yang telah ditetapkan dalam prospektus.
Kepemilikan MF mencerminkan penilaian profesional terhadap prospek emiten. Saham yang memiliki porsi reksa dana yang signifikan biasanya telah melalui proses seleksi berdasarkan kinerja keuangan, tata kelola, dan potensi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang.
Dampak terhadap harga saham: reksa dana cenderung mendorong pergerakan harga yang lebih selaras dengan fundamental dan strategi alokasi aset. Namun, karakteristik ini memiliki konsekuensi penting. Ketika terjadi arus dana keluar dari investor reksa dana, manajer investasi dapat melakukan penjualan secara kolektif untuk memenuhi kewajiban likuiditas. Tekanan jual tersebut dapat menekan harga saham meskipun tidak terdapat perubahan fundamental pada emiten yang bersangkutan.
Perusahaan Efek – SC (Securities Company)
Perusahaan efek mencakup sekuritas yang menempatkan saham untuk kepentingan proprietary trading, market making, atau pengelolaan inventory. Aktivitas ini bersifat lebih taktis dibandingkan investasi institusional jangka panjang, karena tujuan utamanya adalah memanfaatkan peluang pergerakan harga dan menjaga likuiditas pasar.
Kepemilikan SC sering kali bersifat sementara dan dapat berubah dengan cepat mengikuti dinamika pasar. Tidak jarang saham dipegang hanya dalam jangka waktu pendek sebagai bagian dari strategi perdagangan, arbitrase, atau pengelolaan posisi klien.
Dampak terhadap harga saham: kepemilikan tinggi dari perusahaan efek biasanya berkorelasi dengan pergerakan harga yang lebih aktif dan likuid. Namun, karena orientasinya jangka pendek dan oportunistik, kepemilikan ini kurang mencerminkan keyakinan fundamental jangka panjang. Dalam beberapa kasus, aktivitas perdagangan dari SC dapat memperbesar fluktuasi harga, terutama pada saham berkapitalisasi kecil atau dengan likuiditas terbatas.
Yayasan – FD (Foundation)
Yayasan dan badan non-profit mengelola dana untuk mendukung tujuan sosial, pendidikan, keagamaan, atau kemanusiaan tertentu. Investasi saham oleh yayasan umumnya dimaksudkan untuk menjaga nilai dana dan memperoleh imbal hasil yang dapat menopang kegiatan operasional jangka panjang.
Pola investasi yayasan cenderung konservatif dan pasif. Kepemilikan saham biasanya dipertahankan dalam jangka panjang, dengan frekuensi transaksi yang rendah. Keputusan jual atau beli lebih sering dipicu oleh kebutuhan pendanaan kegiatan atau perubahan kebijakan pengelolaan dana, bukan oleh fluktuasi harga harian.
Dampak terhadap harga saham: keberadaan FD memberikan stabilitas pasif dalam struktur kepemilikan. Saham dengan porsi yayasan yang relatif besar umumnya tidak terlalu terpengaruh oleh aktivitas perdagangan jangka pendek. Namun, kontribusinya terhadap likuiditas dan pembentukan harga pasar biasanya kecil, sehingga perannya lebih sebagai penyangga struktural dibanding penggerak harga.
Lainnya – OT (Others)
Kategori residu yang mencakup entitas yang tidak masuk klasifikasi utama. Kelompok ini bersifat heterogen dan dapat berisi berbagai tipe pemegang saham yang karakteristik investasinya tidak dapat digeneralisasi.
Dampak terhadap harga saham bergantung pada komposisi di dalamnya. Secara analitis, OT perlu dibaca dengan hati-hati karena sifatnya yang beragam dan tidak selalu mencerminkan pola perilaku tertentu. Perubahan pada porsi kategori ini sebaiknya dianalisis bersama kategori lain agar tidak menimbulkan kesimpulan yang menyesatkan.
Kode App Script Data Kepemilikan Saham KSEI
skrip App Script digunakan sebagai alat otomatisasi untuk menarik data kepemilikan saham dari sistem KSEI langsung ke Google Sheets tanpa proses unduh manual, ekstraksi ZIP, atau impor CSV secara berulang. Tujuan utamanya bukan sekadar efisiensi teknis, tetapi memastikan bahwa analisa kepemilikan saham selalu berbasis data resmi dan konsisten secara periodik, sehingga perbandingan antar bulan atau antar tanggal dapat dilakukan secara objektif. Dengan pendekatan ini, Google Sheets berfungsi bukan hanya sebagai tabel, tetapi sebagai data pipeline sederhana yang menjaga integritas sumber data sebelum dilakukan pengolahan, agregasi, dan interpretasi struktur kepemilikan.
Cara Menggunakan code App Script data kepemilikan saham
Penggunaan skrip ini dirancang sesederhana mungkin. Cukup menyiapkan sebuah Google Sheet sebagai wadah data, lalu menentukan periode yang ingin dianalisis melalui input tahun dan bulan pada sel yang telah disediakan. Setelah itu, perintah unduh dapat dijalankan melalui menu khusus yang muncul di menu spreadsheet. Sistem akan secara otomatis mencari file kepemilikan saham KSEI pada periode yang relevan, mengunduhnya, mengekstrak data dari arsip, dan menuliskannya ke dalam lembar kerja. Dengan alur ini, pengguna tidak perlu memahami struktur file KSEI atau proses teknis di belakangnya, tetapi tetap memperoleh dataset yang siap dianalisis untuk membaca komposisi kepemilikan manajerial, institusional, asing, dan ritel secara periodik.
Untuk menggunakan otomatisasi ini, langkah pertama adalah menempatkan kode App Script ke dalam Google Sheets Anda. Buka file Google Sheets yang akan digunakan sebagai basis analisa, lalu pilih menu Extensions → Apps Script. Sistem akan membuka editor skrip di tab baru. Di sana, hapus kode bawaan yang muncul, kemudian tempelkan kode App Script yang disediakan pada bagian lampiran artikel ini, lalu simpan proyek tersebut. Setelah disimpan, kembali ke Google Sheets dan lakukan reload halaman agar menu kustom dari skrip dapat muncul.
Selanjutnya, siapkan input periode data dengan mengisi Tahun dan Bulan pada sel yang telah ditentukan di lembar kerja. Setelah itu, jalankan perintah unduh melalui menu khusus yang muncul di spreadsheet. Sistem akan secara otomatis mengakses sumber data KSEI, mengunduh file kepemilikan saham, mengekstrak isinya.
function onOpen() {
var ui = SpreadsheetApp.getUi();
ui.createMenu('📊 Download Data KSEI')
.addItem('Download Data Kepemilikan', 'importDataKSEI')
.addSeparator()
.addItem('Tentang Skrip', 'showAbout')
.addToUi();
}
function showAbout() {
SpreadsheetApp.getUi().alert("Skrip Pengambil Data KSEI\nStatus: Berhasil Terhubung");
}
function importDataKSEI() {
var ss = SpreadsheetApp.getActiveSpreadsheet();
var sheet = ss.getActiveSheet();
var tahun = sheet.getRange("C2").getValue();
var bulan = sheet.getRange("C3").getValue();
if (!tahun || !bulan) {
SpreadsheetApp.getUi().alert("Mohon isi Tahun dan Bulan");
return;
}
var tanggalCek = new Date(tahun, bulan, 0);
var fileBerhasilDitemukan = false;
var percobaanMaksimal = 5;
for (var i = 0; i < percobaanMaksimal; i++) {
var yyyy = tanggalCek.getFullYear();
var mm = (tanggalCek.getMonth() + 1).toString().padStart(2, '0');
var dd = tanggalCek.getDate().toString().padStart(2, '0');
var formatTanggal = yyyy + mm + dd;
var url = "https://web.ksei.co.id/Download/BalanceposEfek" + formatTanggal + ".zip";
try {
var response = UrlFetchApp.fetch(url, {
"headers": {
"User-Agent": "Mozilla/5.0 (Windows NT 10.0; Win64; x64) AppleWebKit/537.36 (KHTML, like Gecko) Chrome/91.0.4472.124 Safari/537.36"
},
"muteHttpExceptions": true
});
if (response.getResponseCode() === 200) {
prosesDataKSEI(response, sheet, formatTanggal);
fileBerhasilDitemukan = true;
break;
} else {
Logger.log("Mencoba tanggal " + formatTanggal + " : File tidak ada.");
}
} catch (e) {
Logger.log("Error pada tanggal " + formatTanggal + " : " + e.toString());
}
tanggalCek.setDate(tanggalCek.getDate() - 1);
}
if (!fileBerhasilDitemukan) {
SpreadsheetApp.getUi().alert("Gagal: Data tidak ditemukan 5Day.");
}
}
function prosesDataKSEI(response, sheet, tgl) {
var zipBlob = response.getBlob();
var unzippedFiles = Utilities.unzip(zipBlob);
var csvContent = "";
for (var i = 0; i < unzippedFiles.length; i++) {
if (unzippedFiles[i].getName().toLowerCase().indexOf("balancepos") !== -1) {
csvContent = unzippedFiles[i].getDataAsString();
break;
}
}
if (csvContent === "") throw new Error("File CSV tidak ditemukan di dalam ZIP.");
var csvData = Utilities.parseCsv(csvContent, '|');
var lastRow = sheet.getLastRow();
if (lastRow >= 5) {
sheet.getRange(5, 2, lastRow, 25).clearContent();
}
sheet.getRange(5, 2, csvData.length, csvData[0].length).setValues(csvData);
sheet.autoResizeColumns(2, csvData[0].length);
SpreadsheetApp.getUi().alert("Berhasil Download Data Kepemilikan Saham: " + tgl);
}